![]() |
| Kementerian Pertanian menyampaikan laporan ketahanan pangan kepada Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026). |
SUARA AKSARA.ID, – Pemerintah memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan nasional melalui peningkatan produksi, penguatan cadangan beras, serta kebijakan yang berpihak kepada petani. Pada Oktober 2026, stok beras nasional tercatat mencapai 4,56 juta ton, angka tertinggi sepanjang sejarah.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan laporan tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna (SKP) Dua Tahun Pertama Pemerintahan Kerja Nyata untuk Negeri di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Selain stok beras di gudang yang mencapai sekitar 4,5 juta ton, pemerintah juga memperhitungkan potensi produksi padi yang masih berada di lahan atau *standing crop*, dengan estimasi 10 juta ton. Persediaan di sektor hotel, rumah tangga, dan sektor lainnya diperkirakan mencapai 10 juta ton.
“Kemudian HPP harga gabah beras naik, sehingga sekarang NTP-nya nilai tukar petani 131 dan ini tertinggi sejak 92 bahkan sejak Merdeka,” ujar Mentan Amran, dikutip dari Halaman Presiden Republik Indonesia.
Peningkatan kesejahteraan petani juga didukung kebijakan penurunan harga pupuk sebesar 20 persen dan kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah. Seiring kebijakan tersebut, Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat mencapai 131, yang menurut Amran menjadi capaian tertinggi sejak kemerdekaan.
Di sisi lain, pemerintah menghadapi persoalan distribusi dan ketidaksesuaian harga sejumlah komoditas pangan. Harga ayam dan telur di tingkat peternak mengalami penurunan, sedangkan harga di tingkat konsumen justru melampaui harga eceran tertinggi.
“Tetapi harga di konsumen itu naik melebihi harga eceran tertinggi. Jadi ada anomali izin Bapak Presiden, kami sudah kirim surat ke Pak Kapolri agar semua yang bermain-main ditindak,” tegas Amran.
Menindaklanjuti persoalan tersebut, Kementerian Pertanian telah berkoordinasi dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk menindak dugaan praktik yang merugikan masyarakat. Pemerintah juga mendorong peningkatan penyerapan telur melalui program pangan nasional guna menjaga keseimbangan pasokan dan harga di tingkat peternak maupun konsumen.
Kinerja sektor pertanian juga tercermin dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pertanian sebesar 5,74 persen. Pada sektor perdagangan, nilai ekspor pertanian meningkat Rp166 triliun, sementara nilai impor pertanian turun Rp41 triliun.
Untuk mendukung keberlanjutan swasembada pangan, pemerintah menyiapkan pengembangan lahan mineral seluas 2 juta hektare. Pada tahap awal, penggarapan direncanakan mencakup 500 ribu hektare melalui sinergi Kementerian Pertanian, Kementerian Pertahanan, dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Selain meningkatkan produksi, pemerintah mengantisipasi dampak perubahan iklim, termasuk El Nino dan La Nina, serta menjaga stabilitas harga pangan. Kementerian Pertanian juga menindaklanjuti temuan dugaan penyimpangan harga beras premium fortifikasi yang dijual hingga Rp56.000 per kilogram, jauh di atas harga Rp13.000 per kilogram.(*)
